Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Memberi Makna Secangkir Kopi

 Kopi seperti apa yang sesuai dengan seleramu? Kopi manis, kopi pahit, kopi sangat manis atau kopi sangat pahit? Berbeda-beda ya, seleraku dan seleramu. Caraku dan caramu dalam menikmatinya pun berbeda. Aku ingin sebebas kopi, tak perlu memikirkan eksistensi lain. Ia akan dingin meski orang yang menikmatinya lebih suka saat dia masih panas. Ia akan bertahan panas sampai waktunya tiba padahal penikmatnya lebih suka menyesap ketika dingin. Kopi juga akan selalu berpegang pada karakteristik tertentu. Ia hanya menunggu penikmat yang akan menerimanya dari segala aspek.  "Kopi A jauh lebih enak daripada kopi B" "Tapi kopi B sedikit asam, aku tidak suka" Lagi-lagi selera atau mungkin bisa kukatakan bahwa ia akan istimewa dan terasa nikmat pada orang yang tepat. Tidak semua satu suara, namun satu suara sudah cukup menjelaskan "kamulah yang paling berharga" begitu kiranya. Tak jarang para penikmat kopi masih mencampurkan beberapa bahan lain, seperti gula atau cream...

Nada Jakarta

          Ini berbeda. Melodinya tak sama. Ini hanya pandangan sempit ku dari salah satu titik di ibu kota. Jangan terlalu percaya kecuali kamu datang sendiri menghampirinya. Waktu yang berjalan seolah terus mempercepat langkah. Layaknya seorang bocah kecil dikejar anjing. Perumpamaan yang mungkin terdengar tak memiliki korelasi, tapi begitulah adanya. Pukul enam sore terlihat seperti pukul dua. Sangat cerah dan terkadang panas. Alam seperti menolak ajakan sang waktu untuk berlalu. Mereka berjalan terpisah. Aneh.       Pukul lima sore di sisi yang lain mungkin semua orang telah mengunci pintu rumahnya dengan rapat. Sedangkan aku masih setia menatap senja dengan lekat. Sungguh lantai delapan belas adalah spot yang menakjubkan. Guratan ungu, merah muda, ataupun jingga sangat jelas dalam pandangan. Tentu saja kau juga dapat menyaksikannya melalui jendela di kota kita tetapi ini berbeda. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa ada sesuatu yang memb...

Warna Baru

Awalnya hanya ada biru Beberapa orang berkata itu lambang sebuah pilu Terlihat menyakitkan saat membelenggu Bahkan tatapannya pun tampak sayu Tetapi kini tak lagi sama Muncul hal berharga dalam dada Hingga tak lagi terpaku pada lampau Berkeinginan untuk menjaga meski masih meragu Namun hadirnya telah mengisi hampa Corak yang membuat jantungnya berdegup kencang tanpa arah Memohon pada semesta agar bertahan lebih lama Meski sadar semua sebatas singgah