Memberi Makna Secangkir Kopi
Kopi seperti apa yang sesuai dengan seleramu? Kopi manis, kopi pahit, kopi sangat manis atau kopi sangat pahit? Berbeda-beda ya, seleraku dan seleramu. Caraku dan caramu dalam menikmatinya pun berbeda.
Aku ingin sebebas kopi, tak perlu memikirkan eksistensi lain. Ia akan dingin meski orang yang menikmatinya lebih suka saat dia masih panas. Ia akan bertahan panas sampai waktunya tiba padahal penikmatnya lebih suka menyesap ketika dingin. Kopi juga akan selalu berpegang pada karakteristik tertentu. Ia hanya menunggu penikmat yang akan menerimanya dari segala aspek.
"Kopi A jauh lebih enak daripada kopi B"
"Tapi kopi B sedikit asam, aku tidak suka"
Lagi-lagi selera atau mungkin bisa kukatakan bahwa ia akan istimewa dan terasa nikmat pada orang yang tepat. Tidak semua satu suara, namun satu suara sudah cukup menjelaskan "kamulah yang paling berharga" begitu kiranya. Tak jarang para penikmat kopi masih mencampurkan beberapa bahan lain, seperti gula atau creamer. Wajar, mungkin hanya beberapa orang yang bisa mentolerir pahit namun ada juga seseorang yang ingin memberi warna atau rasa lain diatas pahit. Bukan memaksakan perubahan, tetapi mengubah dengan takaran.
Selayaknya kehidupan, ada hitam dan putih, ada pahit dan manis. Mengapa harus bertahan pada pahit jika dapat sedikit kamu beri rasa manis yang jelas takkan mengubah rasa orisinil sang kopi? Bisa kiranya untuk mengubah dengan wajar agar tak merusak citra rasa.
Komentar
Posting Komentar